Tahun Baru Islam: Muharram dan Semangat Hijrah
Oleh :
Dr. Dra. N. Siti Suwaebah, M.H.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah mempertemukan kita dengan bulan yang penuh berkah, bulan yang istimewa, yaitu bulan Muharram, sebagai pembuka tahun baru dalam kalender Hijriyah.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Setiap pergantian tahun adalah momentum berharga untuk kita melakukan refleksi dan evaluasi. Bukan hanya sekadar pergantian angka atau waktu, tetapi menjadi momen untuk bermuhasabah—melihat kembali perjalanan hidup kita, apa yang sudah kita capai, dan bagaimana kita bisa menjadi lebih baik di masa mendatang.
Bulan Muharram, sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah, memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat dalam. Ia mengingatkan kita pada peristiwa besar hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah. Namun, hijrah bukan sekadar perpindahan fisik. Lebih dari itu, ia adalah transformasi spiritual, sosial, dan peradaban. Peristiwa hijrah adalah titik balik dari keterpurukan menuju kemuliaan, dari penindasan menuju kemerdekaan iman.
Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya At-Tabshirah (Juz 2 hal. 6) menyebutkan bahwa Muharram adalah bulan yang mulia derajatnya. Ia dinamakan Muharram karena di dalamnya Allah mengharamkan peperangan dan pertumpahan darah. Ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36, bahwa:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram.”
Empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan ini, kita diajak untuk menjauhi segala bentuk konflik, dan memperbanyak amal kebaikan.
Lebih dari itu, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Fakhr (Juz 16 hal. 53) menjelaskan bahwa setiap perbuatan maksiat yang dilakukan di bulan haram akan dilipatgandakan dosanya, dan sebaliknya, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya.
Maka, bulan Muharram bukanlah bulan biasa. Ia adalah bulan kesempatan, bulan keberkahan, dan bulan penguatan niat untuk memperbaiki diri.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah:
Hijrah mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan. Nabi dan para sahabat rela meninggalkan kampung halaman, harta, bahkan keluarga demi mempertahankan iman.
Hijrah mengajarkan pentingnya tekad dan ketabahan. Perjalanan hijrah bukan perjalanan mudah, tetapi karena niat yang kuat dan tawakal kepada Allah, mereka berhasil menghadapinya.
Hijrah mengajarkan pentingnya persaudaraan dan kerja sama. Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, membangun masyarakat Madinah yang bersatu dalam iman dan akhlak.
Karena itu, momentum tahun baru Hijriyah ini adalah saat yang sangat tepat untuk kita bermuhasabah. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah berhijrah dari kemalasan menuju semangat? Dari kelalaian menuju ketaqwaan? Dari keburukan menuju kebaikan?
Marilah kita jadikan tahun baru Islam ini sebagai titik awal hijrah dalam kehidupan kita pribadi dan sosial. Mari berhijrah dari:
Yang buruk menuju yang lebih baik,
Dari kemalasan menuju kerja keras,
Dari kelalaian menuju kesadaran dan ketaqwaan.
Penutup, semoga Allah memberi kita kekuatan untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, dan menjadikan tahun ini lebih berkah dari tahun sebelumnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
